Peluncuran Satelit Fajr Iran dan Reaksi Amerika
Republik Islam Iran kembali membuktikan kemajuannya di sektor teknologi antariksa dengan kesuksesan peluncuran satelit observasi Fajr ke orbit. Satelit Fajr diluncurkan ke orbit dengan menggunakan roket Safir Fajr yang sepenuhnya bikinan anak negeri dan ditangani teknisi nasional.
Juru bicara Menteri Luar Negeri AS, Jean Psaki dalam statemennya menyikapi keberhasilan Iran di sektor antariksa memberikan statemen yang berbagai permainan politik serta mengaitkannya dengan program rudal balistik militer Iran. “Program rudal Iran menjadi ancaman bagi kawasan,” papar Psaki.
Jean Psaki dengan klaimnya ini menambahkan, program rudal Iran dan produksi rudal yang mampu membawa hulu ledak nuklir di negara ini termasuk dalam agenda negosiasi nuklir dengan Kelompok 5+1. Sikap jubir menlu Iran yang mengulang kemajuan sains untuk mengulang klaim usang, bukan hal baru dan jika ia merilis statemen lain maka hal ini menjadi aneh. Dalam pandangan AS, Republik Islam Iran adalah negara yang merasakan dampak sanksi dan kebijakan sanksi cukup efektif bagi Tehran. Tak hanya itu, dalam anggapan AS, sanksi yang mereka terapkan mampu mencegah kemajuan teknologi dan ekonomi Iran. Petinggi Amerika Serikat dengan asumsi ini meyakini bahwa yang menyeret Iran ke meja perundingan adalah dampak sanksi.
Statemen dua hari lalu, David Cohen, deputi menteri keuangan AS yang mengklaim, pulihnya ekonomi Iran tanpa kesepakatan dengan Barat soal program nuklir tidak mungkin terjadi. Ini merupakan bukti perspektif mereka terhadap Republik Islam.namun Iran meski disanksi masih tetap meraih banyak kemajuan dan pembangunan dibidang sains dan teknologi maju. Kemajuan ini, merupakan pesan jelas kepada Amerika yang menunjukkan pengetahuan mereka terhadap kemampuan dan kapasitas Iran sangat dangkal.
Keberhasilan ini diraih Iran ketika AS selama bertahun-tahun memanfaatkan sarana represi seperti sanksi terhadap Iran dan senantiasa berupaya mengucilkan Tehran di segala sektor serta menutup peluang kemajuan negara ini. AS bahkan menentang partisipasi ilmuwan dan saintis Republik Islam di berbagai seminar ilmiah di Amerika serta negara-negara Eropa. Washington juga mencantumkan banyak ilmuwan Iran ke dalam list sanksi dengan dalih aktif di bidang teknologi nuklir.
Oleh karena itu, interpretasi dari statemen Psaki tak lebih dari sentimen anti Iran. AS selama bertahun-tahun menanamkan modal besar di proyek Iranphobia dan berupaya mencitrakan Tehran sebagai ancaman bagi kawasan. Pemerintah AS dengan dasar pemikiran ini dan cara yang sama, menyikapi teknologi nuklir damai di Iran. AS terus berusaha mengenalkan program nuklir damai Iran dan kemampuan ilmuwan negara ini di bidang pengayaan uranium sebagai sebuah ancaman.
Padahal misi dari sentimen ini tak lebih dari sekedar menjegal kemajuan Iran. Namun dewasa ini, industri antariksa Departemen Pertahanan Iran dikenal sebagai organiasi pertama dunia Islam di bidang peluncuran satelit dan satelit nasional Fajr tercatat satelit dalam negeri Iran keempat.
Di bidang ilmu-ilmu eksakta, seperti produk sel punca, simulasi dan nanoteknologi, Iran juga bertengger di antara negara-negara maju dunia. Prestasi sains Republik Islam Iran termasuk peluncuran satelit bukan sebagai ancaman, namun merupakan hasil kerja keras selama tiga dekade dan rasa percaya diri untuk terus maju serta menggapai puncak kejayaan. Yang lebih penting adalah, ini merupakan indikasi kekuatan lunak Iran dalam menghadapi berbagai ancaman. (IRIB Indonesia

