KISAH KELUARGA SUCI YANG TERLUPAKAN

Seberapakah kita mengenal Rasulullah Saw dan keluarganya yang suci – yang selalu kita kirimkan shalawat dan pujian setiap harinya? Adakah kita telah berupaya mengenal insan nan mulia tersebut dengan sebenar-benarnya? Atau jangan-jangan, kita lebih tertarik mengenal kehidupan para selebritis atau politikus yang memenuhi linimassa?
Kyai Alawi Nurul Alam al-Bantani, seorang ulama muda Nahdlatul Ulama (NU), kembali hadir dengan karya terbarunya yang berjudul ‘Kisah Keluarga Suci yang Terlupakan’. Buku ini, ibarat sebuah alarm yang mengetuk kembali kesadaran kita. Ada yang bilang bahwa tak kenal maka tak cinta. Maka, mungkinkah kita memang benar-benar mencintai Rasulullah dan keluarganya, jika kita tidak benar-benar mengenal seperti apa jalan kehidupan yang mereka tempuh?
Namun belakangan ini, ada sebuah perspektif yang terlihat anomali. Siapapun, yang menyanjung, memuji dan mengagungkan keluarga Nabi, maka ia harus siap disebut melakukan sebuah ‘pengkultusan’ – dan stigma ini berujung pada tuduhan yang lebih parah lagi, yaitu musyrik bahkan kafir. Akibatnya, perlahan namun pasti, keberadaan keluarga Nabi yang telah begitu banyak menghiasi lembaran sejarah, menjadi sesuatu yang asing. Tanyakan kepada sepuluh orang beragama Islam secara acak, adakah mereka mengetahui bagaimana kisah Imam Hussain yang syahid di Karbala?
Buku ini diawali dengan berbagai riwayat dan puja-puji yang dari para sahabat dan ulama lintas generasi, tentang keberadaan keluarga Nabi – yang kita kenal sebagai Ahlul Bait. Dalam sebuah riwayat, disebutkan;
“Mengabarkan kepada kami al-Haisyam ibn Khalaf ad-Duriyu, mengabarkan kepada kami Ahmad ibn Yazid ibn Sulaiman maula Bani Hasyim, mengabarkan kepada kami Husain ibn al-Hasan al-Asyqar, mengabarkan kepada kami Husyaim, dari Hasyim ar-Ruman, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, berkata: “Bersabda Rasulullah Saw, “Tidak akan tergelincir kaki seorang hamba sebelum ia ditanya tentang empat perkara (nanti di akhirat); tentang umurnya, bagaimana ia menghabiskannya, tentang tubuhnya, bagaimana ia menggunakannya, tentang hartanya, bagaimna ia membelajankannya dan bagaimana pula cara memperolehnya. Serta tentang kecintaannya terhadap Ahlul Bait.”
Dengan begitu jelas, Rasulullah telah berpesan kepada ummatnya, agar mencintai Ahlul Bait. Kewajiban ini, haruslah dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Dan tentulah, klaim cinta tidak cukup hanya dengan ucapan semata. Harus ada sebuah bukti konkret, misalnya, dengan meneladani akhlak Ahlul Bait.
Lalu, seperti apa akhlak mereka?
Kita akan larut dalam berbagai kisah yang begitu agung dan penuh hikmah. Tentang bagaimana kebijaksaan dan keluasan ilmu Imam Ali, atau tentang bagaimana kesederhanaan dan ketegaran Fatimah az Zahra mendampinginya. Lalu dari pernikahan keduanya, lahirlah pemuda yang dikabarkan sebagai penghulu surga, yaitu Imam Hasan dan Imam Hussain.
Keduanya, begitu disayang oleh Rasulullah Saw. Semasa kecilnya seringkali Rasulullah menggendong di atas pundaknya seraya bersabda, “ Ya Allah, aku mencintainya, maka cintailah mereka.”
Rasulullah juga bersabda, “Barangsiapa yang mencintai al-Hasan dan al-Husain sesungguhnya ia telah mencintaiku, dan barangsiapa yang membenci mereka sesungguhnya ia telah membenciku.”
***
Dan, bagaimana dengan kita hari ini?
Dalam berbagai kesempatan, perayaan Asyura untuk memperingati peristiwa syahidnya Imam Hussain di Karbala, disebut-sebut sebagai sesuatu yang sesat dan menyimpang. Sekelompok orang yang menamakan dirinya pembela sunnah, sambil meneriakkan takbir, berusaha mengusir para pecinta dan perindu keluarga Nabi.
Tak hanya perayaan Asyura. Di lain kesempatan, ketika ummat Muhammad begitu berbahagia dan bersuka cita merayakan maulid Nabi, maka saat itu pula ada sekelompok orang yang tidak terima, marah, dan menuduh telah melakukan perbuatan bid’ah. Bukankah kelahiran Rasulullah adalah anugerah terbesar dari Allah kepada ummat manusia? Lalu mengapa, mensyukuri nikmat yang begitu besar tersebut, kini dianggap sebagai sebuah dosa?
Lihatlah apa yang terjadi di Irak, di Suriah dan di Yaman. Para pecinta keluarga Nabi, diserang, dibom dan dibantai ... hanya karena mereka begitu mencintai. Masjid mereka diledakkan, mobil mereka dihujani granat... oleh gerombolan teroris transnasional yang mengaku paling Islam, dan selain mereka, dianggap sebagai kafir yang halal darahnya.
***
Ketika wajah Islam hari ini seolah-olah diwakili oleh kebiadaban ISIS, Al-Nusra, Taliban, Ansar al-Sharia, Boko Haram, Al-Qaeda in Arab Peninsula, dan berbagai teroris lainnya, maka seharusnya, kita melawan. Karena sesungguhnya, Islam tidaklah demikian, Islam adalah rahmat, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan keluarganya yang suci. Itulah tolak ukur yang sejati, dan benar. Dan akhlak merekalah, yang seharusnya kita ikuti.
Untuk Anda yang ingin mengenal lebih jauh tentang kemuliaan keluarga Nabi, maka buku ini bisa menjadi salah satu referensi. Dan jikalau ada yang mencela, menghujat, atau menuduh Anda berdosa karena hal ini, maka, jawablah, “Jika mencintai keluarga Nabi Saw adalah sebuah dosa, maka, aku tidak akan bertobat dari dosa tersebut.”

selengkapnya baca di buku Judul Buku : " KISAH KELUARGA SUCI YANG TERLUPAKAN "

Penulis : Kyai Haji Alawi Nurul Alam Al-Bantani
Penerbit : Salam Insan Mulia
Cetakan : I, 2015
Tebal : 130 Halaman

Postingan populer dari blog ini

Akhir zaman memang masa masa sulit bagi umat Islam

pengumuman tenaga kontrak RSUD Zainal Abdin Banda Aceh 2016